Rabu, 31 Mei 2017

KOMUNIKASI PRODUKTIF


 
 
Institut Ibu Profesional

Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1


KOMUNIKASI PRODUKTIF


Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI


Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.


Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.


Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir


Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.


Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda


Kata  masalah gantilah dengan tantangan


Kata Susah gantilah dengan Menarik


Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu


Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.



Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.



Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya



Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.



Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.



KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN


Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.



Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.



Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.



FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.



FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.



FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.



Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.



Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.



Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA



Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.



Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.



Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi



Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.



Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.



Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.



Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.



Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:



1. Kaidah 2C: Clear and Clarify


Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.



Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.



2. Choose the Right Time


Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.



3. Kaidah 7-38-55


Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.



Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).


Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?


Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.


4. Intensity of Eye Contact


Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati



Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.



5. Kaidah: I'm responsible for my communication results


Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.


Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.



Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.



KOMUNIKASI DENGAN ANAK


Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.


Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy



Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.


Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.


Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.


Bagaimana Caranya ?


a. Keep Information Short & Simple (KISS)


Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk


⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.



✅Kalimat Produktif :

“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)


b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah


Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh


⛔Kalimat tidak produktif:

“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)


✅Kalimat Produktif :

“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)


Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.


c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan


⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”


✅Kalimat produktif :

“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”


d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu


⛔Kalimat tidak produktif :

“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”


✅Kalimat produktif :

“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”


e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”


Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.


f. Fokus pada solusi bukan pada masalah


⛔Kalimat tidak produktif :

“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”


✅Kalimat produktif:

“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.



g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan


Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.


⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:


“Waah anak hebat, keren banget sih”

“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”


✅Pujian/Kritikan produktif:

“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”


“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”


h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman


⛔Kalimat Tidak Produktif:

“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”


✅Kalimat Produktif:

“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.


I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi


⛔Kalimat tidak produktif :

“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :

“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”


j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati


⛔Kalimat tidak produktif :

"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"


✅kalimat produktif :

kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?


k. Ganti perintah dengan pilihan


⛔kalimat tidak produktif :

“ Mandi sekarang ya kak!”


✅Kalimat produktif :

“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat




Salam Ibu Profesional,



/Tim Bunda Sayang IIP/


Sumber bacaan:

Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000


Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015



Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4


Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
 
 
πŸŽ€ 

Jumat, 21 April 2017

One Day Trip Bandung : Floating Market Lembang

Tanggal 2 april 2017 lalu bertepatan dengan anniversary kami yang ke 7 berangkatlah kami sekeluarga ke bandung untuk menepi sejenak. Salah satu "me time" saya adalah stalking foto jalan-jalan di instagram dan baca artikel blogtraveller hehehe. Nah setelah melakukan studi literasi yang cukup (halah gaya wkwkwk) pilihan lokasi kali ini jatuh ke arah Lembang. Target yang ingin saya tuju adalah Farm House dan Taman Begonia. Kenapa Farm house? karena lagi kekinian bingiits.. nah kenapa taman begonia? karena liat foto orang2 bagus banget dan murah lagi tiket masuknya (penting inih ). Kami dari Bogor berangkat jam 5.30 pagi nyampai daerah Lembang sekitar pukul 10.00 WIB dengan kondisi lalu lintas ramai lancar. Yang bikin lama itu adalaahhh... nyari jalan ke Farm Housenya. Kami sebagai pengikut setia panduan dari google Maps (maklum meskipun sudah bolak-balik Bandung kami punya keterbatasan dalam mengingat rute hehehe) ternyata rute yang ditunjukkan di Lapangan ada sedikit kendala, jalanan di tutup sehingga muter arah gitu. Nah setelah mengikuti kembali opsi rute lainnya dan bertanya dengan orang2 di sekitar teruslah melaju. Eh pas keluar jalan tikus tersbut langsung disambut gerbang "Welcome Floating Market" saya langsung teriak..udah langsung lurus saja bi, kita kesini saja dulu. Loh gimana sih, katanya mau ke Farm House. Udah gapapa kesini saja dulu nanti baru ke farm House, ini juga bagus koq (padahal tempat ini jadi opsi saya terakhir, karena kalo dari hasil stalking saya tidak terlalu menggoda untuk dikunjungi πŸ˜›) Masuklah kami ke Floating market ini dengan membayar tiket 20.000/orang. anak2 juga bayarnya sama. Terus Abi nanya, ada apa aja disini? Karena bayangannya sama dengan Floating Market Sentul. Ada banyak, ada mainan juga. Padahal pikiran saya juga sama, paling ini juga kecil kaya di Sentul. Gapapalah sebentar saja, lepas rehat sebentar nanti lanjut ke tujuan utama farm House.

Masuklah rombongan kurcaci ini ke dalam. Tiket yang kita bayar tadi dapat ditukarkan dengan minuman hot/ice chocolate, milo, atau lemon tea. Setelah melewati area pintu penukaran minuman langsung disuguhkan dengan berbagai jajanan (persis ini mah kaya di sentul dalam hati hehehe) terus berjalan lagi dan ternyataaa....di luar dugaan tempat ini sangat luas dan komplit. ada area bermain air, wahan anak dan wahana foto2 dengan pakaian korea dan jepang serta yang baru di buka saat itu Rainbow Garden. Lokasi yang paling pas untuk yang suka selfie2 upload (saya ga masuk karena bawa dua kurcaci yang ga akan mau di foto2 jadi percuma hehehe).

Oke Selanjutnya biarkanlah foto-foto ini berbicara... halaah



udah waktunya pulang...besok ditambahin foto-fotonya

Sabtu, 25 Maret 2017

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

NHW#9 FIFI
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana,  lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.


Selasa, 14 Maret 2017

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Nice HomeWork #8

Pada NHW#7 dalam tahap mencapai bunda produktif, saya sudah membuat kuadran aktivitas. Agar produktivitas tersebut tercapai optimal, tentu saja fokus utama aktivitas yang saya lakukan berada pada kuadran SUKA dan BISA.

a. Pada kuadran SUKA dan BISA, ada 3 aktivitas yang saya cantumkan yaitu: memasak, jalan-jalan bersama anak dan menambah income keluarga. Dari ketiga aktivitas ini saya memilih aktivitas menambah income keluarga yang akan saya jabarkan tahapannya dalam meraih capaian bunda produktif.

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
  ➡ Saya ingin menjadi mompreneur
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
  ➡ Saya mau membangun jaringan bisnis yang memberikan banyak manfaat bagi ummat
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
 ➡ sekolah unggulan berbasis entrepreneur gratis

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
➡➡ Meyiapkan bekal untuk akhirat nanti agar saya dan keluarga dimudahkan memasuki surga Allah, salah satunya menyiapkan 3 amalan yang tidak akan putus setelah kita meninggal yaitu : amal jariyah, do'a anak yang shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Untuk itu selama umur saya masih ada saya ingin membangun jaringan bisnis. InsyaAllah dengan bisnis yang bagus akan membantu perekonomian ummat dan tentunya akan lebih mudah untuk menciptakan impian terbesar saya punya sekolah unggulan yang akan mencetak generasi rabbani.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
 ⏩ punya brand fashion yang terakui dengan reseller tersebar diseluruh indonesia.
⏩  Mampu memberikan 100 beasiswa pagi pelajar dhuafa yang berprestasi
⏩ Menguasai (monopoli) dalam produksi brand fashion dari hulu sampai ke hilir dengan karyawan semuanya muslim
⏩ mempunyai 100 binaan entrepreneur yang produktif

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
⏩ menguasai strategi marketing dengan omset penjualan 100 juta setahun
⏩ penguatan personal branding di bidang fashion, reseller 10 orang

Sabtu, 11 Maret 2017

TAHAPAN MENJADI BUNDA PRODUKTIF

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah akhirnya bisa juga mengerjakan NHW#7 ini setelah dua hari kemaren dibuat galau oleh HP yang tiba-tiba rusak karena alasan sepele tapi tidak sepele dengan bayarannya hik..hiks... (maaf jadi curhat).

Ok lanjut,  maaf intermezonya πŸ˜‚.Pada tugas matriks kali ini diminta untuk mengikuti tes bakat di http://temubakat.com/id/ dan begini lah hasilnya. Tes bakat ini bertujuan untuk memfokuskan kita menuju ke bunda produktif
Berdasarkan hasil temu bakat diatas sudah sesuai dengan NHW2 sebelumnya yang saya kerjakan, dimana saya akan memfokuskan diri untuk menjadi seorang mompreneur. Berdasarkan hasil ST30 tersebut saya mempunyai potensi kekuatan sebagai pengahsil sebuah produk (creator), merancang dan perfeksionis dalam hasil serta mamu membuat perencanaan jangka panjang. Namun saya punya kelemahan dalam bidang analisis, ketelitian, dan tidak berani dalam ambil resiko. jadi hasil pemetaan bakat saya ini cocok dengan tujuan saya membangun suatu usaha dimana saya berperan utama sebagai penyususn rencana, menghasilkan produk sedangkan untuk hal lainnya saya butuh mitra yang berperan sebagai distributor dan akuntan.

Kuadran Aktivitis
Pengelompokan aktivitas diatas bertujuan  agar  saya lebih efisien dan fokus pada hal-hal yang disukai dan bisa, disukai dan tidak bisa (upgrade diri) . Serta meminimalisir kegiatan bisa dan tidak suka dengan di subkontrakkan pada ART. Dengan melakukan hal-hal yang lebih suka akan membuat kita semakin produktif.


Kamis, 02 Maret 2017

BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

Saat membaca NHW# 6 inisaat teringat ungkapan Buya Hamka yaitu : "Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja". Apa hubungannya dengan NHW kali ini?? Yup, di materi pekan ke 6 ini kita disentil agar tidak "sekedar" menjadi ibu. Sekedar jadi ibu?? maksudnya?? ya kita hanya menjalankan fitrah kita saja menjadi ibu, menjalani rutinitas kita dalam mengurus rumah dan anak-anak. Kita tidak mengenal peran kita sesungguhnya dalam keluarga begitu prestis yaitu sebagai MANAJER KELUARGA. Agar tidak terjebak dalam menjalani hidup sebagai ibu dengan rutinitasnya yang segambreng, yang rasanya 24 jam itu tidak pernah cukup kita harus mengikuti tahapan-tahapan berikut:

1. Menuliskan Tiga aktivitas yang paling penting dan yang paling tidak penting.
    3 Aktivitas yang paling penting dalam keseharian saya:
  • Menambah jam terbang terkait jurusan ilmu yang sudah saya tentukan (entreprenuer "mompreneur")
  •  Aktivitas bersama anak
  • Mengerjakan pekerjaan rutin saya
3 Aktivitas yang paling tidak penting
  • Berlama-lama chatting dengan teman-teman komunitas di WA dan bermain media sosial
  • Berlama-lama browsing hal-hal yang tidak berkaitan dengan entreprenuer dan parenting 
  • Nonton drama koreaπŸ™ˆ 
2. Dari kedua aktivitas diatas, selama ini waktu saya paling banyak habis untuk semua kegiatan yang paling tidak penting. Saya mengukurnya dari sebandingnya waktu yang terpakai dengan manfaat yang didapatkan. Sehari itu ada 24 jam dimana 9 jam saya pergunakan untuk kerja dikantor, kurleb 2 jam ibadah, 6 jam istirahat, dan tersisalah7 jam untuk saya mengerjakan pekerjaan seputar RT yang tidak terdelegasikan ke ART, fokus bersama anak. Waktu 7 jam itu sangat sedikit nah waktu yang sedikit ini masih juga sering habis untuk 3 kegiatan yang paling tidak penting diatas. Saya terkadang bisa 1 -2 jam lebih browsing2, yang kadang menyita jatah waktu istirahat saya, asyik dengan chat sembari nemenin anak2 main 😭😭 dan bisa berjam-jam nonton korea. tau sendirilah yang hobi drakor pasti tak cukup puas cuma nonton1 episod..suka penasaran next..next..ke episode selanjutnya Astaghfirullah..... . Untuk poin yang terkahir ini sudah teratasi, saya sudah tidak nonton drakor lagi, semoga selamanya. klo pun pengen hiburan nyari yang film korea aja yg durasinya lebih singkat #teutep korea deui hehehe. piisss.

3. Ketiga aktivitas paling penting diatas saya jadikan sebagai kegiatan dinamis saya. Berhubung bekerja dikantor sudah ada jadwal tetap dan sudah jelas manajemennya. Jadi yang saya maksud pada poin 3  (kegiatan rutin) disini lebih pada urusan pekerjaan rumah tangga yang tidak saya delegasikan kepada ART yaitu: menyiapkan keperluan suami sebelum berangkat kerja. 
4. Ketiga kegiatan rutin diatas selnajutnya saya kelompokkan menjadi standar pagi dan standar malam. 
Standar pagi : subuh - 07.15
Standar malam: habis magrib -20.00
5. Agenda yang tidak terencana tidak diperkenankan memenuhi jadwal waktu harian 
6. Jadwal Harian:
  • subuh - 07.15 : standar pagi (menyiapkan bekal makanan, menyiapkan anak berangkat sekolah)
  • 07.15 -17.00 : perjalanan dan aktivitas bekerja dikantor
  • 17.00 - 18.00 : Membersamai aktivitas outdoor anak-anak (bermain dan bersosialiasi dengan teman-teman dilingkungan)
  • 18.00- 20.00 : Aktivitas bersama anak (fun learning, bermain bersama, ngobrol keluarga)
  • 20.00 - 20.30 : Meyiapkan anak-anak untuk tidur
  • 20.30 - 22.30 : Memperbanyak jam terbang ( baca materi, menyiapkan media promosi, mencari ide-ide produk, dll)
  • 22.30 : isitirahat (bobo syantiek πŸ’€πŸ’€πŸ’€)
Mudah-mudahan dimudahkan untuk melakdanakan ini semua dan semoga bisa menuju Manajer Keluarga handal









Kamis, 23 Februari 2017

LEARNING HOW TO LEARN

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah sudah memasuki pekan kelima menimba ilmu melalui matriks IIP. Setiap pekan dibimbing pelan-pelan untuk menentukan tujuan dan menggali potensi, berubah ke arah yang lebih baik dan bermanfaat. Dari mulai diminta menentukan jurusan ilmu yang oengen ditekuni dan sampai kemaren di NHW#4 sudah memantapkan hati untuk menekuni suatu ilmu dan menetapkan milestone.
Pada pekan lalu saya sudah memantapkan diri untuk menekuni bidang "mompreneurship" dan menentukan tahap2 ilmu apa saja yang harus saya pelajari.  Tentunya untuk mempelajari itu semua harus disusun suatu desain pembelajaran untuk mencapai misi. Karena bidang yang akan saya pelajari disini adalah momprenuership, bearti ada dua bagian pokok disana, saya sebagai ibu dan sebagai entreprenuer. Kedua hal ini akan coba saya rumuskan agar sama-sama sejalan sehingga tidak ada yang terkorbankan dalam mempelajari ilmu tersebut.

Saya sudah menetapkan milestone pada NHW#4, milestone ini saya anggap sebagai acuan kurikulum dasar dalam pembelajaran ini. Saya akan mempelajari berdasarkan pokok bahasan yang saya buat yaitu : kepemimpinan dan manajemen, marketing, kreativitas dan inovasi , Pengelolaan keuangan, Pengelolaan dan Pengembangan SDM. Dalam mempelajari setiap tahapan ilmu tersebut , harus diuji apakah sudah peham dan terlaksana dengan baik. Jadi dalam menentukan desain pembelajaran tersebut maka saya menentukan poin-poin berikut :

1. Untuk siapa pembelajara ini? Jawab: untuk saya 
2. Metode seperti apa yang akan digunakan ? Jawab : Teori dan praktek
3. Darimana sumber ilmu didapatkan? Jawab : internet, buku dan praktek langsung di lapangan
4. Apa indikator keberhasilan ? Jawab : Jika sudah memenuhi target yang dibuat
5. Siapa saja yang akan menjadi "support system" selama pembelajaran ini? Jawab: Suami dan anak-anak
6. Siapa yang akan menjadi pemandu dalam pembelajaran ini? Jawab : Tentor dan suami
7. Bagaimana evaluasi dari pembelajaran ini? Jawab : Membuat rekapitulasi bulanan, hal-hal apa saja yang sudah terlaksana, dan apa yang belum



Lelaki Ku

Terpisah jarak dan waktu dari orang yang dicinta Pergi jauh dari tanah kelahiran demi wujudkan cita Tekad membaja sebagai bekal diri ...