Selasa, 06 Juni 2017

Tantangan komunikasi produktif : Hari keenam

Komunikasi merupakan sesuatu yang memegang peranan penting dalam hubungan sosial antar individu, termasuk dengan pasangan. Seringkali permasalahan dimulai karena adanya komunikasi yang kurang baik atau miss communication. Menurut saya menyelaraskan komunikasi dengan pasangan itu adalah seumur hidup sama hal nya dengan merawat cinta.

 Bagi saya dan suami prinsip 7 - 38 -55 biasanya lebih efektif untuk saling memahami maksud masing2. Diawali dengan ini kemudian baru kami berdua ngobrol untuk menjelaskan dan mengklarifikasi apa yang masing-masing diinginkan. Dalam hal komunikasi ini kami juga sudah punya kesepakatan, sehubungan kami berdua bekerja di ranah publik, selama jam kantor komunikasi hanya dilakukan untuk hal-hal yang memang perlu dibicarakan saat itu. Jika tidak perlu dan butuh waktu khusus maka saat jam kantor hanya minta izin waktu nanti sepulang kerja ada yang mau didiskusikan.

Teringat dulu waktu awal-awal menikah, layaknya mungkin pasangan lain. Saya rajin sms suami minimal 2 kali sehari dengan pertanyaan : sudah sampai kantor?, sudah makan siang?  Dan sejenisnya. Biasanya cuma dijawab singkat atau kadang malah ga dijawab πŸ˜… Akhirnya suami konfirmasi ke saya kalau bagi dia sms semacam itu cukup mengganggu selama jam kerja. Saya pun sebenarnya melakukan hal itu hanya sebagai ungkapan perhatian. Karena takutnya kalau tidak ditanya suami menyangka saya tidak perhatian.eh..  ternyata dugaan saya salah πŸ˜‚ Akhirnya kami sepakat sms semacam itu ditiadakan kecuali kalau memang lagi dinas luar kota boleh bertanya hal seperti itu. Jadi sekarang lebih banyak berusaha menciptakan komunikasi dua arah antara saya dan suami. Bukan semacam FAQ yang satu bertugas bertanya dan satunya hanya menjawab. 

#gameLevel1
#Komunikasproduktif
#day6
#kelasbunsayiip

Senin, 05 Juni 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif : hari kelima

Pagi ini diawali dengan komunikasi yang kurang produktif antara umi dan kima. Setelah ikutan makan sahur dan mengajak kkima kembali tidur, dia berontak. Terus ya dibiarkan saja dulu bermain. Tak lama dia meminta sesuatu. Namun umi tidak paham apa yang disampaikannya. Kima malah nangis. Umi mencoba mensiasati ke yang lain. Kima juga ga mau malah marah-marah, mukul-mukul. Dengan kondisibyang masih kliyengan, umi berusaha menarik nafas namun kima malah tambah menjadi2. Berusaha menjawab apa yang diinginkannya ternyata semua jawab umi keliru. Karena kima tambah mengamuk, dan juga sambil mukul-mukul.akhirnya umi lepas kontrol juga. Keluar intonasi dana tinggi "kima diam" Alhasil kima malah menangis. Hiks..hiks.. akhirnya dibelai2 dan sambil disusui kima tertidur juga.

Benar-benar masih PR besar baginsaya dan suami dalam hal kontol emosi ini kepada anak-anak. Terus belajar dan memperbaiki diri

#GameLevel1
#day5
#komunikasiroduktif
#kelasbunsayiip

Minggu, 04 Juni 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif : hari keempat

Hari ini terasa sangat panjang. Badan dari pagi ga enak, mual-mual dari sahur. Aksi duo FH hari ini lumayan juga 😎 Dimulai dari rebutan makanan, rebutan bolak-balik naik motor , masuk mobil dan berakhir main lumpur di taman.

Alhamdulillah hari ini urusan domestik dibantuin Abi. Mulai dari jagain anak2 (saat umi tidur siang karena kliyengan) sampai masak menu buat buka puasa 😍



Fisik yang kurang fit hari ini ditambah duo FH yang super aktif, umi pun agak susah mengintrol emosi. Sempat tadi umi nasehatin kima dengan intonasi yang tinggi karena tidak mau makan, berantakin makanan dan mukul2 abang.

#GameLevel1
#day4
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Sabtu, 03 Juni 2017

Tantangan 10 hari KomProd: Kontrol Emosi part#2

"Abang ga boleh gitu"
"Abang jangan gitu nak ke adek.kasian adeknya"
"Abaaang... telinganya dengar ga, umi bilang apa? 😈"

Beberapa kalimat diatas sering banget terucap dari mulut saya saat abang iseng  sama kima. Mulai dari nada yang biasa saja sampai keluar tanduk (maap keunπŸ™) Padahal setelah keluar tanduk tersebut saya selalu menyesal dan minta maaf. Tapi ya begitu juga nanti terulang lagi saat mereka berdua berantem lagi. Banyak2 istigfar dan tarik nafas.

Ternyata kalimat2 diatas tidak produktif dalam menyelesaikan konflik adek kakak ini yang ada malah abang tetap lanjut iseng sama sang adek.

Saya mulai mengamati, setiap berantem biasanya adek selalu merajuk minta pertolongan. "Umiiii..." dan spontan saya pasti akan langsung bela adek dan menasehati abang. Ternyata ini salah karena adek jadi kebiasaan dan abang merasa tidak terima karena terkdang pemicu mereka berantem dimulai dari adek yang duluan iseng sama abang πŸ™‡

Saat mereka berantem, adek pun merajuk saya cuekin saja. Pergi menghindar tapi sambil intip2. Takut juga kalo sampai membahayakan berantemnya. Saya ngasih waktu pada mereka berdua untuk menyelesaikan masalahnya. Ya saya harus tahan saja mendengar teriakan mereka beberapa saat. Alhamdulillah cara ini lumayan berhasil menenangkan mereka. Saya pun sekarang tidak langsung menasehati abang. Saat kondisi tenang saya
ajak abang ngobrol. Menanyakan kenapa tadi berantem. saat diskusi ini saya usahakan abang dalam posisi senyaman mungkin, dipangku atau sambil dielus2. Biasanya abang akan cerita semuanya dengan jelas dan saya jadi paham akar masalahnya.

#level1
#day3
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 02 Juni 2017

Tantangan 10 hari KomProd : Kontrol emosi

Day#2

Anak kecil itu nalar pendek - emosi tinggi sedangkan orang dewasa : nalar panjang - emosi rendah. Begitulah yang tercantum dalam materi komprod. Mmm...tapi dalam pelaksanaannya sangat sulit memperpanjang nalar ini. Jadi nya kita ikut-ikutan seperti anak2 hehehe. Mengingat pola komunikasi selama ini banyak sekali yang tidak produktif yang saya lakukan terutama dalam mengendalikan emosi dan kontrol intonasi suara. Saya gampang sekali tersurut amarah saat si kecil mulai "ngamuk" . Maafkan umi dan abi nak πŸ™

 Yup, saya dan suami punya masalah yang sama dalam kontrol emosi ini. Namun perlahan mulai belajar untuk memanjangkan nalar sehingga emosi rendah. Banyak2 istigfar dan tarik nafas. Ternyata benar dua hal ini sangat ampuh untuk meredakan emosi yang sedang tinggi. Alhamdulillah ada kemajuan sedikit dari perubahan sikap abang dan kima. Hari ini mereka cuma berantam sekali. Dan hari ini pun kima sudah paham cara meminta maaf ketika salah.  Tadi saat saya lagi makan, kima melempar saya dengan mangkok kosongnya. Saya berusaha tenang, mimik wajah senyum dan menatap. Saya terharu kima bilang " ash..ash (red : maaf) sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.

Fyi : kima ( 20 m), Abang (5y10m)

#Gamelevel1
#day2
#tantangankomunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Rabu, 31 Mei 2017

TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF : Abang Pasti Bisa

 Game kelas Bunda Sayang

 Umi (U) : Abang tahun ini mulai belajar puasa penuh ya?
Abang (A) : Mmm.. ga mau ah mi. puasa itu capek.
U : Iya sih, puasa itu memang capek. Menahan lapar dan haus. Tapi kita harus coba dulu ya. Tahun lalu kan abang sudah nyoba. Apalagi bentar lagi udah mau SD, belajar puasa sampai maghrib ya nak.
A : Iya mi.

Perjuangan puasa di hari pertama dimulai. Pas di bangunin sahur Alhamdulillah lancar. Makan pun berjalan lancar.Sekitar jam 12 siang, drama dimulai 😊. Tiap menit liatin jam bergerak. Terus komen,koq lama banget geraknya? Bolak-balik bilang lapar. Udah detik2 mau buka bilang pusing mi,sakit perut . Sabar ya bang. Diajakin nyiapin makanan. Eh g kerasa beduk. Langsung deh abang menyantap es 🍨 dan nasi goreng + udang 🍱

Teringat saat saya belajar puasa seusia abang. Selalu diiming2i bonus oleh ortu 😊 berlanjut sampai SD dan sampai akhirnya sadar sendiri klo puasa itu salah satu kewajiban orang yg beriman πŸ˜‡ Hal yang sama pun kami terapkan pada fayyad. Namanya anak2, pasti senang diapresiasi apa yang dilakukannya dan pengennya rewardnya real . Tapi yang paling penting tidak ada unsur pemaksaan, semua pasti bertahap. Tahun ini abang belajar puasa penuh karena Ramadhan tahun lalu pun abang mampu 2 hari. Selanjutnya cuma setengah hari karena memang tidak sanggup. Tidak ada sesuatu pun yang akan menjadi BISA tanpa PEMBIASAAN yang mendidik.

Namun, penting juga menanamkan pada anak urgensi puasa. Setiap fayyad ngeluh lapar maka akan kami ingatkan, betapa kita harus bersyukur. Masih bisa makan tiap hari, ada orang yang terpaksa puasa tiap hari karena memang tidak ada makanan yang mau dimakan dst... Saya juga pernah memperlihatkan pada fayyad video sistem pencernaan manusia. Betapa kasiannya lambung kalo tidak pernah istirahat. Nah, kalau puasa lambung kita bisa bersih karena dia ada waktu istirahat.  Ternyata video ini membekas sama fayyad.padahal sudah ditonton setahun lalu. Buktinya tadi di tes masih ingatπŸ–’πŸ˜Š


Abang tertidur pulas setelah buka hari 1.

Alhamdulillah sampai hari ke-5 Ramadhan puasa abang Fayyad masih full. Buat kami, puasa ini menjadi salah satu ajang pembelajaran buat anak-anak. Banyak manfaat yang dapat diambil. Dengan puasa ini abang juga jadi paham kalau agama ini beragam. Ada agama lain yang tidak puasa. Satu kalimat fayyad yang membuat saya meleleh yaitu : "Umi abang mau puasa buat ngumpulin piala untuk kita berkumpul di Surga nantinya " (Amiin YRA😒😊 ) Semoga jadi anak yg sholih dan mensholihkan ya nak.

#level1
#day1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif

Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ self concept yang nantinya akan menentukan harga diri/ self value dan percaya diri/ self confidence anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi. 

Kunci dalam komunikasi ialah perasaan. Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi. Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan Verbal Abuse, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang. Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak: ♻ Melemahkan konsep diri ♻ Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama ♻ Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak ♻ Kemampuan berfikir menjadi rendah ♻ Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri ♻ Iri ♻ Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial. Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. “Action is louder than words” 

 Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ?
 (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita) 

 1. Jangan bicara tergesa-gesa 
 Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak! 

 2. Ingat: Setiap pribadi unik 
 Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

 3. Kenali diri sendiri dan anak 
Kebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas. Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka. Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan.

 4. Pahami perbedaan needs dan wants 
Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.  

5. Pahami “Masalah Siapa?” 
  Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. 

 6. Baca bahasa tubuh 
Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

 7. Dengarkan Perasaan 
Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainannya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

 8. Mendengarkan dengan aktif
  Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita. 

 9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic) 
Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer: 1⃣Memerintah, contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!” 2⃣Menyalahkan, contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar” 3⃣Meremehkan, contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?” 4⃣Membandingkan, contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau” 5⃣Memberi cap, contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!” 6⃣Mengancam, contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!” 7⃣Menasehati, contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…” 8⃣Membohongi, contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok” 9⃣Menghibur, contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi” πŸ”ŸMengeritik, contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!” 1⃣1⃣Menyindir, contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi” 1⃣2⃣Menganalisa, contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…” Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus. 

 10. Gunakan “Pesan Saya” 
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan: “Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain” Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“. “Pesan saya” memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan “pesan kamu”. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

 /Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/ Sumber Informasi: Catatan Seminar Elly Risman, artikel Cemilan Rabu Bunda Sayan Batch#1



Lelaki Ku

Terpisah jarak dan waktu dari orang yang dicinta Pergi jauh dari tanah kelahiran demi wujudkan cita Tekad membaja sebagai bekal diri ...